Cerita di Kongres Nasional Pertama Central Sarikat Islam 1916 di Bandung
Selama
sepekan, tanggal 17 sampai 24 Juni 1916, di alun-alun Bandung seperti
ada pasar malam. Bukan pasar malam sebenarnya yang sedang berlangsung,
melainkan Kongres Sarikat Islam.
Panitia Kongres bertekad membuat waktu
itu juga menjadi pekan untuk berpesta. Seluruh alun-alun dipajang, tarup
pesta yang besar dibangun, dimana dibuka buffet untuk jualan makanan
dan minuman yang dapat mengelus-ngelus lidah. Gubuk-gubuk dibangun
berderet dalam garis yang rapih, dimana dipamerkan dan dijual
macam-macam barang kerajinan rakyat. Hasil bersih dari usaha itu akan
didarmakan kepada Sekolah Agama Islam yang belum berselang lama
didirikan.
Para pengunjung yang akan datang, diduga
terdiri dari segala lapisan masyarakat, tidak kurang-kurang dari lapisan
atas. Karena itu penerimaan tamu jangan kurang menunjukan penghargaan
kepada pengunjung-pengunjung itu. Para ibu guru dari Sekolah Keutamaan
Putri dikerahkan untuk melayani tamu-tamu yang datang di buffet untuk
menikmati makanan dan minuman yang dihidangkan. Dengan pakaian yang
rapih dan tindak-tanduk yang sopan serta hormat, para ibu guru itu
memperlihatkan kecantikan lahir dan batin, yang wanita-wanita
Parahiangan pandai benar melaksanakannya. Pekan itu sekaligus bukti,
bahwa wanita Indonesia, tidak ketinggalan dari saudaranya kaum pria
dalam perjuangan mencapai kemajuan, yang pada waktu itu sedang meliputi
kehidupan bangsa.
Tiap siang hari di alun-alun itu diadakan
perlombaan olah raga, sedang tiap malam diadakan pertunjukan bioskop
atau wayang. Penerangan alun-alun itu diatur sangat sempurna, sehingga
hampir tidak ada bedanya waktu siang dan malam. Malah malam lebih
menarik dengan lampion-lampion yang warna-warni, dan pajangan-pajangan
yang baru menarik di waktu malam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar